Halo ibu sukses, apa kabar hari ini? Semoga hari ini menjadi hari yang indah buat kita semua. Amin. Kebiasaan saya kalau pagi adalah mengikuti berita di TV, sebagai tambahan informasi selain lewat media internet. Tadi ketika menonton TV, cukup tergelitik dengan adanya iklan dari Dinas Sosial mengenai 'jangan memberi uang kepada pengemis di jalanan, karena dengan anda memberi uang kepada mereka berarti anda berkontribusi membiarkan mereka tetap mengemis'. Iklan ini cukup tegas menghimbau kepada masyarakat untuk berhenti memberi uang kepada pengemis di manapun mereka berada.
Melihat iklan tersebut, saya pribadi antara setuju dan tidak setuju. Saya yakin menjadi pengemis adalah bukan cita-cita hidup mereka. Mereka terpaksa mengemis di jalan memang karena tuntutan ekonomi yang semakin meninggi dari hari ke hari. Kalau tidak mengemis dengan cara apa? Toh selama ini pemerintah juga tidak peduli dengan kondisi mereka. Padahal sudah jelas dalam konstitusi negara kita menyebutkan bahwa 'Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara', 'Setiap orang berhak mendapatkan pendapatan dan penghidupan yang layak". Tapi mana?
Memang tidak bisa dipungkiri sebagian mereka diasuh dan diberi ketrampilan oleh dinas sosial, tapi setelah itu mereka dilepas lagi dijalan tanpa ada pendampingan yang optimal untuk mempraktekkan ilmu mereka secara benar. Lantas bagaimana mereka bisa bersaing dengan manusia yang lainnya yang lebih profesional? Angka kemiskinan di Indonesia kita ketahui dari tahun ke tahun semakin meningkat, hal ini dapat terlihat makin banyaknya jumlah pengemis yang ada di jalanan, selain itu banyaknya program TV yang mengumbar kehidupan orang miskin di negeri ini, seharusnya ini menjadi PR bersama yang harus segera dituntaskan.
Kemiskinan di Indonesia tidak semata-mata masalah individu tetapi masalah yang ditimbulkan oleh kegagalan sistem negara ini yakni demokrasi. Jadi bisa disebut ini adalah miskin secara sistemik. Lihatlah kebijakan-kebijakan yang ada bukannya membuat rakyat sejahtera tapi makin sengsara seperti contohnya kebijakan menaikkan harga BBM bersubsidi.
Jadi solusinya memang harus sistemik juga jadi selama sistem negara yang dipakai adalah demokrasi masalah kemiskinan tetap tidak akan terselesaikan dengan tuntas. Malah akan semakin meningkat terus menerus. Karena dalam demokrasi, semuanya bebas membuat aturan termasuk para pejabat negara. Tidak peduli apakah itu membuat sengsara rakyat ataukah tidak? Yang penting bagi mereka adalah untung, untung, untung.
Sejatinya pemimpin adalah pelayan rakyat. Seharusnya urusan rakyatlah yang menjadi prioritas utama. Ibu-ibu mari tetap berbagi terhadap sesama, mereka tetap masih membutuhkan uluran tangan kita. Sembari kita juga memberikan edukasi dan menghapuskan mental pengemis dari dalam diri mereka.

No comments:
Post a Comment