Setelah menjadi orangtua, saya merasakan perbedaan yang luar biasa dalam diri saya terutama masalah orientasi hidup. Dulu sewaktu masih remaja, orientasi hidup saya hanya mengejar kesenangan. Kemudian dewasa, orientasi hidup berubah menjadi mengejar kekayaan, ketika menikah berbeda lagi yakni ingin membahagiakan suami, sekarang setelah punya anak, orientasi hidup saya hanya untuk kebahagiaan anak saya.
Kebahagiaan anak adalah kebahagiaan saya, kesedihan anak adalah kesedihan saya. Saya berusaha belajar memberikan bekal yang terbaik untuk hidup anak saya kelak. Dan belajar memahami kondisi psikologi anak dengan baik termasuk kondisi saat anak sedang marah.
Marah adalah salah satu bentuk ketidaksukaan anak terhadap sesuatu. Tidak suka terhadap perlakuan tertentu, tidak puas terhadap keadaannya atau keinginan yang tak terpenuhi. Merasa dihina, disudutkan, disia-siakan. Tak bisa diabaikan anak-anak memiliki naluri yang sama dengan orang dewasa.
Marah adalah salah satu penampakan naluri pertahanan diri. Pada anak-anak yang telah maju dalam kecerdasan verbal bahasa, ia akan mudah mengatakan kemarahannya. Hal ini memudahkan orang tua untuk menghiburnya. Namun sebagian besar anak-anak usia dini belum sempurna kemampuan komunikasinya, ketidakpekaan ibu terhadap perasaan marah anak akan menghasilkan bahaya yang besar.
Emosi yang makin tak terkendali (membanting barang-barang, menuntut berlebihan, memukul, dll), karena merasa tak satupun orang mengerti tanpa ia lakukan sesuatu yang merusak tentu ini tidak diinginkan oleh siapapun.
Di balik kemarahan anak sesungguhnya tersimpan potensi untuk mengungkapkan perasaannya, bahkan potensi kepemimpinannya. Lihatlah ketika ia marah karena tidak ditunjuk menjadi imam sholat, atau tidak ditaati keputusannya oleh sekelompok kawan bermainnya. Bukankah ini penampakan calon pemimpin yang sudah semestinya ditaati? Jadi tidak perlu setiap kemarahan dianggap buruk dan tak berguna.
Oleh karenanya, orang tua perlu mendalami setiap gejala emosi anak. Kenalilah penyebab marahnya lapar, haus, kepanasan, kedinginan, atau ingin buang air? Jika itu penyebabnya, segera bantu untuk memenuhi kebutuhannya sambil didorong untuk dapat memenuhi kebutuhannya, kecuali yang ia belum sanggup.
Jika penyebabnya adanya rasa yang tidak nyaman karena sakit, bantulah untuk mengobati dan meringankan rasa sakitnya. Hiburlah bahwa rasa sakitnya itu akan mengantarkan ke surga jika ia sabar.
Jangan lupa memberi contoh mengungkapkan rasa marah dengan cara yang lebih baik. Tentu dengan contoh yang berulang-ulang sebagai teladan. Bukan dengan marah-marah dan mengumpat.
Hargailah ungkapan ekspresi anak, termasuk marah dan senyumnya. Agar ia mengerti bahwa ekspresi sangat penting dan berharga bagi dirinya dan orang lain. Kebanyakan orang tua lupa menghargai ekspresi positif anak. Apabila pemicu kemarahan anak terkait hubungan/interaksinya dengan anak lain atau orang dewasa, cobalah mengerti (dengan analisa peristiwa yang dihadapi anak-anak) tanpa menyalahkan siapapun katakan bahwa masalah itu dapat diselesaikan tanpa marah-marah.
Mari Bu...teruslah belajar untuk menjadi ibu yang terbaik buat anak-anak kita.
Emosi yang makin tak terkendali (membanting barang-barang, menuntut berlebihan, memukul, dll), karena merasa tak satupun orang mengerti tanpa ia lakukan sesuatu yang merusak tentu ini tidak diinginkan oleh siapapun.
Di balik kemarahan anak sesungguhnya tersimpan potensi untuk mengungkapkan perasaannya, bahkan potensi kepemimpinannya. Lihatlah ketika ia marah karena tidak ditunjuk menjadi imam sholat, atau tidak ditaati keputusannya oleh sekelompok kawan bermainnya. Bukankah ini penampakan calon pemimpin yang sudah semestinya ditaati? Jadi tidak perlu setiap kemarahan dianggap buruk dan tak berguna.
Oleh karenanya, orang tua perlu mendalami setiap gejala emosi anak. Kenalilah penyebab marahnya lapar, haus, kepanasan, kedinginan, atau ingin buang air? Jika itu penyebabnya, segera bantu untuk memenuhi kebutuhannya sambil didorong untuk dapat memenuhi kebutuhannya, kecuali yang ia belum sanggup.
Jika penyebabnya adanya rasa yang tidak nyaman karena sakit, bantulah untuk mengobati dan meringankan rasa sakitnya. Hiburlah bahwa rasa sakitnya itu akan mengantarkan ke surga jika ia sabar.
Jangan lupa memberi contoh mengungkapkan rasa marah dengan cara yang lebih baik. Tentu dengan contoh yang berulang-ulang sebagai teladan. Bukan dengan marah-marah dan mengumpat.
Hargailah ungkapan ekspresi anak, termasuk marah dan senyumnya. Agar ia mengerti bahwa ekspresi sangat penting dan berharga bagi dirinya dan orang lain. Kebanyakan orang tua lupa menghargai ekspresi positif anak. Apabila pemicu kemarahan anak terkait hubungan/interaksinya dengan anak lain atau orang dewasa, cobalah mengerti (dengan analisa peristiwa yang dihadapi anak-anak) tanpa menyalahkan siapapun katakan bahwa masalah itu dapat diselesaikan tanpa marah-marah.
Mari Bu...teruslah belajar untuk menjadi ibu yang terbaik buat anak-anak kita.

No comments:
Post a Comment