Beberapa hari yang lalu, seorang teman curhat sama saya tentang suaminya, dia profesinya sama seperti saya, seorang ibu rumah tangga tulen dengan 1 anak perempuan. Suaminya adalah buruh di pabrik spring bed. Dia merantau ke Boyolali dalam rangka mencari penghidupan yang lebih baik daripada di kota asalnya. Temanku ini sebenarnya asli dari Brebes dan suaminya dari Banjarnegara.
Di kota asalnya dulu mereka adalah pembuat gula aren, seperti kita ketahui Banjarnegara terkenal sekali dengan gula aren dan dawetnya tentu saja. Karena penghasilan dari membuat dan menjual gula aren ini tidak mencukupi, oleh karenanya mereka merantau ke Boyolali ikut temannya dan kerja di pabrik kasur.
Teman saya ini seorang muslimah yang belum berhijab. Dia sering saya ajak dalam forum-forum kajian kemuslimahan. Saya mengajaknya dalam rangka bertholabul'ilmi dan mengenal lebih dekat tentang Islam. Seiring berjalannya waktu, ternyata dia masih belum mau menutup auratnya. Kemudian aku pun menanyakannya, "Bu, kenapa masih belum berhijab? Masihkah ada ganjalan di hatimu sehingga membuatmu untuk enggan melaksanakan perintah Allah SWT?"
Dan inilah curhatnya:
"Sebenarnya saya ingin sekali untuk berhijab karena saya pun takut akan siksaNYA. Setiap hari saya keluar rumah tidak berkerudung otomatis tiap hari pula saya mengumpulkan dosa. Yang menjadi masalah adalah suami saya, dia belum mau sholat, tubuh masih penuh dengan tattoo, tidak pernah sholat jumat, tidak pernah mengajari keluarganya tentang Islam. Suami saya itu masih maksiat sehingga saya malu untuk berhijab, apa kata orang nanti."
Saya yakin para ibu muslimah di luar sana ada yang pernah mengalami hal yang sama dengan temanku. Dia enggan untuk berhijab karena menunggu suami dan keluarganya sholeh dulu baru kemudian berhijab. Meskipun mereka sudah tahu bahkan hafal dengan dalil perintah untuk menutup aurat dan mengenakan jilbab dan kerudung.
Seorang Muslim yang beriman kepada Allah dan beriman pula kepada kehidupan akhirat, hendaknya dalam setiap perbuatannya harus bernilai ibadah kepada Allah.
Motivasi ibadah merupakan hadaf yang paling utama bagi seorang yang beriman kepada Allah sehingga niatnya menjadi ikhlas karena Allah, sebagaimana firman Allah ta'ala:
"Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaKU."(TQS. Adz Dzariyat: 56)
Termasuk motivasi dalam pernikahan, seorang Muslim hendaknya motivasi ibadahlah yang menjadi pondasinya. Sehingga apapun yang dilakukan suami-istri tersebut bernilai pahala jadi bukan amalan yang sia-sia. Bukankah kita menikah untuk menyempurnakan separuh Dien?!
Seorang suami hendaknya memperhatikan keadaan tingkat keimanan istrinya dan anak-anaknya, ciptakan suasana dalam rumah tangga yang penuh barokah, dengan dihiasi dzkir kepada ALLAH SWT. Karena suamilah nahkoda kapal rumah tangga, dan suamilah yang akan mengarahkan kemana kapal tersebut berlabuh.
Seorang suami akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarga yang dipimpinnya, sebagaimana sabda Nabi SAW:......"setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya."...
Inilah hal yang perlu dilakukan untuk ibu-ibu muslimah yang belum mau berhijab karena suaminya yang belum sholeh;
1. Janganlah menunda-nunda untuk melakukan suatu kebaikan, apalagi kebaikan itu perintah dari Allah SWT sang Pencipta manusia dan jagat raya ini. Apapun yang diperintahkan Allah untuk manusia pasti mengandung kebaikan dan pahala bagi yang melakukannya.
2. Jangan pedulikan dengan ocehan orang-orang yang malah mengajak kepada kemaksiatan. Anggap saja mereka setan yang berwujud manusia. Karena tugas utama setan adalah menghalangi manusia taat kepada perintah Allah SWT.
3. Selalu positif thingking terhadap perintah Allah SWT. Ketika kita menjalankan perintahNya dapat pahalalah kita namun ketika kita sengaja meninggalkannya berdosalah kita. Life is choice. Pahala atau dosa.
4. Mengenai suami, teruslah menasehati, karena memang itulah solusinya. Kita sebagai istri tidak bisa memaksa suami untuk berubah karena perubahan itu sendiri berasal dari kesadaran individu. Kesadaran individu terbentuk ketika dia faham akan kebenaran. Memang seharusnya dalam kehidupan berumah tangga, harus ada sikap nasehat-menasehati dengan kebenaran, nasehat-menasehati dengan kesabaran, nasehat-manasehati dengan kasih sayang di antara anggota keluarga, bahkan ciri utama kebahagiaan rumah tangga terdapat di dalamnya sikap saling menasehati, terdapatnya komunikasi sehat dan berkualitas di antara anggota keluarga bila nasehat itu berasal dari al Qur'an dan as Sunah.
5. Usirlah kata "tetapi". Karena kata tetapi itu menegaskan atau menghapus kata-kata positif di depannya. Kata 'tetapi' juga menciptakan ketakutan seseorang untuk mewujudkan harapannya.
So Lets DO IT!!!!
3. Selalu positif thingking terhadap perintah Allah SWT. Ketika kita menjalankan perintahNya dapat pahalalah kita namun ketika kita sengaja meninggalkannya berdosalah kita. Life is choice. Pahala atau dosa.
4. Mengenai suami, teruslah menasehati, karena memang itulah solusinya. Kita sebagai istri tidak bisa memaksa suami untuk berubah karena perubahan itu sendiri berasal dari kesadaran individu. Kesadaran individu terbentuk ketika dia faham akan kebenaran. Memang seharusnya dalam kehidupan berumah tangga, harus ada sikap nasehat-menasehati dengan kebenaran, nasehat-menasehati dengan kesabaran, nasehat-manasehati dengan kasih sayang di antara anggota keluarga, bahkan ciri utama kebahagiaan rumah tangga terdapat di dalamnya sikap saling menasehati, terdapatnya komunikasi sehat dan berkualitas di antara anggota keluarga bila nasehat itu berasal dari al Qur'an dan as Sunah.
5. Usirlah kata "tetapi". Karena kata tetapi itu menegaskan atau menghapus kata-kata positif di depannya. Kata 'tetapi' juga menciptakan ketakutan seseorang untuk mewujudkan harapannya.
So Lets DO IT!!!!

untuk merubah orang lain, memang seharusnya di mulai dari kita sendiri..... Nasehat terbaik adalah menjadi tauladan dan inspirasi bagi org lain... tak perlu banyak kata2 terucap.
ReplyDeleteMaaf mbak baru sempat berkunjung balik
jazakillah khairan atas kunjungannya mb Hariyanti Sukma:)
Delete