Orangtua adalah orang yang pertama kali bertanggung jawab atas tumbuh kembang anak-anaknya. Dan orang tualah yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah Allah SWT tersebut.
Tugas orangtua tidak hanya membesarkan anak-anaknya tetapi juga mendidik, membimbing, dan mengarahkan hidup anaknya kepada jalan yang diridhoi oleh Allah SWT. Ketika anak masih kecil (belum baligh), ini sangat mudah bagi orang tua untuk mengarahkan bagaimana anak tersebut melakukan aktivitas. Namun ketika anak memasuki usia baligh, orang tua perlu memperhitungkan secara cermat bagaiman tahap tumbuh kembang anak dan kapan saat anak mereka memasuki usia dewasa.
Maka tugas orangtua adalah mengantarkan anak menjadi seorang dewasa yang sempurna yang berakhlak mulia. Hal yang terlupakan oleh orang tua adalah mempersiap bekal anak untuk pernikahannya secara matang.
Inilah 9 kiat bagi orang tua untuk menyiapkan pola pikir dan pola sikap anak menuju kedewasaannya :
1. Orang tua harus memahami kapan Islam menetapkan anak memasuki masa kedewasaannya. Masa awal kedewasaan anak perempuan adalah saat dia pertama kali haid dan anak laki-laki ketika mengalami mimpi basah.
2. Orang tua merancang sistem pendidikan terbaik untuk anaknya.Pendidikan bertujuan untuk menyiapkan pola pikir Islami.
3. Orang tua tidak boleh menyerahkan pendidikan yang bertujuan mematangkan kemampuan berpikir dan berperilaku ini hanya kepada lembaga formal semata. Sebab mayoritas ritme kehidupan anak ada di tengah keluarganya. Lembaga formal hanya sebagai alat bantu untuk menambah informasi dan wawasan bagi anak. Orang tuanyalah yang mengawasi apakah pola mekanisme berpikir dan berperilku ini telah terbentuk pada anak.
4. Orang tua adalah teladan yang pertama bagi anak. Karena itu, orang tua adalah contoh terbaik bagi anak dalam menerapkan pola berpikir dan meneladani bagaimana mengarahkan bersikap.
5. Kesadaran tentang arti dan tujuan hidup harus ditanamkan sejak usia dini.
6. Pernikahan anak bukan berarti menghilangkan tanggung jawab orang tua. Tetapi orang tua nantinya tetap menjadi penasihat dan penengah bagi rumah tangga anaknya.
Mari Bu senantiasa kita terus belajar bagaimana menjadi orang tua yang tidak sekedar menjadi induk tetapi pendidik, pengayom, dan pelindung bagi anak-anaknya.
3. Orang tua tidak boleh menyerahkan pendidikan yang bertujuan mematangkan kemampuan berpikir dan berperilaku ini hanya kepada lembaga formal semata. Sebab mayoritas ritme kehidupan anak ada di tengah keluarganya. Lembaga formal hanya sebagai alat bantu untuk menambah informasi dan wawasan bagi anak. Orang tuanyalah yang mengawasi apakah pola mekanisme berpikir dan berperilku ini telah terbentuk pada anak.
4. Orang tua adalah teladan yang pertama bagi anak. Karena itu, orang tua adalah contoh terbaik bagi anak dalam menerapkan pola berpikir dan meneladani bagaimana mengarahkan bersikap.
5. Kesadaran tentang arti dan tujuan hidup harus ditanamkan sejak usia dini.
6. Pernikahan anak bukan berarti menghilangkan tanggung jawab orang tua. Tetapi orang tua nantinya tetap menjadi penasihat dan penengah bagi rumah tangga anaknya.
Mari Bu senantiasa kita terus belajar bagaimana menjadi orang tua yang tidak sekedar menjadi induk tetapi pendidik, pengayom, dan pelindung bagi anak-anaknya.

No comments:
Post a Comment