Assalamu'alaikum ibu sukses. Apa kabar hari ini? Semoga hari ini adalah hari yang indah buat kita semua. Amin.
Hari ini adiknya bapak mertua (bu lek) akan mengadakan walimatul aqiqoh buat cucunya yang baru lahir. Rencananya akan mengadakan pesta rakyat alias pake acara dangdutan (malam) dan campur sarian (pagi). Karena memang ini bagian dari nadzarnya, kalo dia mendapat cucu perempuan dari anaknya yang pertama maka ia akan mengadakan walimatul aqiqoh yang meriah dan Allah SWT pun mengabulkannya.
Hal yang membuat aku ga sreg dari walimatul aqiqah ini adalah bulekku berharap dari perayaan ini ia mendapatkan banyak sumbangan dari warga desa. Atau bahasa sederhananya dia mendapatkan untung dari perayaan ini.
Seperti sudah menjadi sebuah kebiasaan orang Indonesia, kalau kita hadir ke sebuah acara pesta, ada tradisi 'sumbang menyumbang'. Orang kota biasanya menyumbang dengan uang dimasukkan dalam kotak sumbangan yang punya hajat, kalau di desa biasanya sumbangannya berupa bahan-bahan pokok misalnya beras, gula, teh, minyak goreng, telur, dll.
Yang membuat aku gregetan adalah bukan tradisi sumbang menyumbangnya tapi niatan orang yang menyumbang ma yang disumbang itu lho. Kebanyakan masyarakat Indonesia ketika menyumbang seseorang dalam sebuah pesta, niatannya adalah agar ketika dirinya nanti mengadakan pesta, juga akan disumbang oleh orang yang dia sumbang. Maksudnya kayak mengaharap balik gitu lho. Lebih sederhananya kalau dulu aku disumbang Rp 100.000 sama si A, maka ketika si A punya gawe maka aku juga harus menyumbangnya senilai Rp Rp 100.000. Hal inilah yang tidak aku sukai. Apalagi yang punya hajat adalah orang kaya, hih gemes aku. Kalau dia mengadakan pesta tersebut hanya untuk minta sumbangan, hello...ngapain juga ngadain pesta, bukannya pesta tersebut diadakan dalam rangka untuk berbagi kebahagiaan ya?!!!
Aku sempat bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya siapakah yang membuat tradisi sumbang menyumbang seperti ini?!! Ataukah ini adalah warisan dari penjajahan Belanda?! Masih inget gak bu tentang politik etisnya Van de Venter?
Politik etis atau yang dikenal dengan politik balas budi adalah suatu pemikiran yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial Belanda memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan rakyat pribumi. Dalam prakteknya politik balas budi hanyalah akal-akalan kolonial Belanda saja agar mereka bisa memperkerjakan paksa rakyat pribumi untuk memuluskan penjajahan mereka. Misalnya rakyat pribumi dibuatkan irigasi (pengairan) oleh pemerintah Belanda, maka sebagai balasannya mereka juga harus membuatkan irigasi untuk Belanda tanpa dibayar sebagai kompensasi atas dibuatkannya irigasi tersebut. Kamu tak kasih, maka kamu juga harus ngasih.
Hal semacam ini sebenarnya tidak diajarkan dalam Islam. Di dalam Islam memberi dan menerima hadiah sesama Muslim itu adalah hal yang disunahkan.
Hadist dari Abu Hurairah yang dikeluarkan oleh Bukhari, Rasulullah bersabda:
"Kalian harus saling memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai."
"Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah."
Hadiah ini tidak termasuk hadiah dari rakyat kepada penguasa, karena hadiah kepada penguasa diharamkan sebagaimana halnya suap-menyuap.
Dalam memberi hadiah kepada sesama pun diniatkan hanya untuk mendapatkan ridho Allah SWT bukan untuk mendapatkan balasan yang serupa. Oleh karena itu, Islam mengajarkan bagi seorang Muslim yang tidak mampu membalas kebaikan atau pemberian dari sesama Muslim maka disunahkan mengatakan "Jazakallah khairan".
At Tirmidzi meriwayatkan dari Usamah bin Zaid, Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa diberi kebaikan kemudian ia berkata kepada orang yang memberi kebaikan,"Jazakallah Khairan"(semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka dia sungguh telah memberikan pujian yang sangat baik."
At Tirmidzi telah meriwayatkan dengan isnad yang hasan dari Jabir dari Nabi SAW, beliau bersabda:
"Barangsiapa diberi suatu pemberian kemudian menemukan sesuatu untuk membalasnya, maka hendaklah ia membalas dengannya. Jika ia tidak menemukan sesuatu untuk membalas kebaikan, maka hendaklah ia memberikan pujian, karena orang yang memberika pujian berarti ia telah berterima kasih, dan barangsiapa yang menyembunyikan kebaikan, maka ia telah mengingkari kebaikan yang diberikan kepadanya, maka ia seperti orang yang mengenakan pakaian palsu."
Memang tidak salah, membalas pemberian (sumbangan) seseorang dengan nilai yang sepadan, tetapi yang salah adalah ketika kita menyumbang dengan mengharapkan pamrih dari dia. Dan ketika kita diberi sumbangan pun jangan ngoyo banget misalnya sampai berhutang demi untuk bisa mengembalikan sumbangan tersebut. Udahlah ga dapat pahala, ada tanggungan hutang pula. Hidup ini tidak untuk gengsi-gengsian bu. Sejatinya hidup adalah ibadah, apapun yang kita lakukan usahakan bernilai pahala dan bermanfaat bagi sesama.
Yuk mari ubah pola pikir kita, jangan hidup ini tidak untuk mencari untung rugi tetapi sebagai ladang mengumpulkan amal sholeh untuk kehidupan akhirat nanti. Bagi yang nyumbang hari ini, niatkan aktivitas menyumbang tersebut adalah sedekah dan semata-mata untuk mengharap ridho dari Allah SWT.
Selamat menyumbang!!

No comments:
Post a Comment