Tuesday, October 14, 2014

WABAH SONI WAK WAW

   
WABAH SONI WAK WAW


    Halo ibu sukses. Apa kabar hari ini? Semoga hari ini adalah hari yang indah buat kita semua. Amin. 
    Beberapa hari ini anak saya Rosyid (4 th) suka mengoceh " bapak mana bapak mana, bapak di congol". Saya sebagai ibunya kaget melihat anak sendiri mendapat kata-kata yg tidak semestinya dikatakan anak umur 4 th. Apalagi di rumah memang TV menyala ketika anak sudah terlelap tidur sekitar pukul 21.00 dan itupun sangat jarang kami menyalakannya. Jadi saya heran darimana dia mendapat kata-kata ala Sony Wak Waw (salah satu pemain di emak ijah naik haji). 
   Saya pun bertanya padanya, " Mas Rosyid, bilang bapak mana bapak mana yg ngajarin siapa?". "Teman-temanku jg ngomong kayak gitu mi", jawabnya. Diapun menyebutkan nama-nama temennya yg juga sering menyanyi ala Sony Wak Waw. Ternyata dia mendapatkan lagu itu dari teman-temannya di sekolah. Saya pun menjelaskan bahwa kata-kata tersebut adalah bukan kata-kata anak solih. kemudian saya menjelaskan arti kata-kata itu. 
    Kemudian saya bertanya balik kepada Rosyid,"Sekarang bapaknya mas Rosyid di mana?", "Kerja mi", jawabnya. Saya pun memujinya, "Nah itu yg namanya anak solih calon pak ustad".  Saya sendiri sebenarnya juga tidak tahu siapa  Soni Wak Waw, kemudian saya pun bertanya sana sini dan menyempatkan diri menonton sinetronnya. MasyaAllah, saya heran juga kok  bisa orang seperti Sony jadi artis dan idola anak-anak? Hal ini menandakan bahwa negara sedang krisis orang hebat dan sholih.
     Kemudian saya pun curhat kepada gurunya yang kebetulan tetangga saya tentang Rosyid. Gurunya malah bertanya balik "Itu emangnya kata-kata dari mana e, Bu?". Bu guru ternyata juga tidak tahu, memang Bu guru tersebut jarang menonton TV, jadi kurang tahu perkembangan dunia persinetronan Indonesia. Kemudian solusi yg dia berikan adalah dia akan mengarahkan murid-muridnya untuk mengganti kata-kata tersebut menjadi kata-kaya yang bermakna. Seorang ibu tidak boleh frustasi dalam mempelajari kaedah-kaedah tingkah laku atau mengajari anak dari satu peristiwa atau dua peristiwa saja karena daya ingat anak masih terbatas. 
    Itu satu contoh bagaimana besarnya pengaruh lingkungan di mana anak berada membentuk kepribadiannya. Meskipun di rumah sudah ditanamkan aqidah dan akhlaq yang mulia, tapi ketika anak ke luar rumah dan kondisi lingkungan sekitarnya tidak sama, maka akan membuat anak menjadi bingung dan malah akan membentuk split kepribadian. Apalagi saat ini kebanyakan masyarakat sudahlah sangat cuek terhadap kondisi sesamanya mereka tidak mau tahu apa yg terjadi di luaran sana. Inilah fakta masyarakat sekarang. Individualis dan apatis.
   Oleh karena itu, tugas ibu tidak hanya mendidik dan mengarahkan anak-anaknya saja untuk menjadi anak yang sholih dan sholihah tetapi juga mendidik masyarakat agar menjadi masyarakat yang cerdas dan sholih. Faham mana yg benar dan mana yg salah. 
    Mari jangan ikut-ikutan cuek, tapi jadilah ibu semesta. Ibunya semua ibu, anak-anak dan masyarakat. Wallahu'alam bi ash showab.

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...