Halo ibu sukses. Apa kabar hari ini? Semoga hari ini adalah hari yang indah buat kita semua. Amin.
Daycare, pasti sudah tidak asing bagi seorang ibu yang bekerja dan terpaksa meninggalkan anak-anaknya. Daycare alias tempat penitipan anak untuk saat ini menjadi solusi bagi ibu-ibu yang bekerja fulltime. Sudahlah ayah bekerja, ibu juga bekerja, saudara-saudara lainnya juga kerja sedangkan nenek dan kakek sudah jompo, mau tidak mau anak harus dititipkan di daycare. Daycare saat ini menjadi tempat yang 'amanah dan aman' untuk mengurus anak.
Daycare, pasti sudah tidak asing bagi seorang ibu yang bekerja dan terpaksa meninggalkan anak-anaknya. Daycare alias tempat penitipan anak untuk saat ini menjadi solusi bagi ibu-ibu yang bekerja fulltime. Sudahlah ayah bekerja, ibu juga bekerja, saudara-saudara lainnya juga kerja sedangkan nenek dan kakek sudah jompo, mau tidak mau anak harus dititipkan di daycare. Daycare saat ini menjadi tempat yang 'amanah dan aman' untuk mengurus anak.
Keberadaan daycare tak lepas dari fakta banyaknya ibu-ibu yang bekerja fulltime di luar rumah. Dan hal ini biasanya dialami oleh pasangan suami istri yang hidup jauh dari sanak kerabatnya. Dilema pun terjadi antara karier dan rumah, antara bos dan anak.
Ketika seorang ibu memutuskan untuk tetap bekerja, anak-anak pun terpaksa ditinggalkan. dan pilihannya adalah inhomecare alias diasuh di rumah oleh pembantu rumah tangga (PRT), baby sister, ataukah dititipkan ke daycare. Perdebatan positif negatif cara 'menitipkan' anak ini pun tak pernah berujung.
Lebih baik inhomecare atau daycare? Pendukung inhomecare beralasan diasuh di rumah itu lebih baik, asal diasuh dengan orang yang tepat, karena anak dihandle oleh pengasuh atau baby sisternya. Satu pengasuh satu anak.
Selain itu, anak tidak akan kehilangan suasana rumahnya sendiri. Sehingga merasa nyaman dan tenang dengan aktivitas apapun yang disukainya, tanpa 'diatur' bak robot dengan kurikulum yang kelewat disiplin layaknya di daycare. Meski begitu, pola pengasuhan inhomecare jg banyak menimbulkan masalah. Seperti, minimnya rangsangan bagi anak.
Ya, kebanyakan PRT berpendidikan rendah. Anak hanya mendapatkan pengasuhan, bukan pendidikan. Apalagi PRT juga merangkap semua pekerjaan. Belum lagi banyaknya PRT nakal yang merugikan majikan dan bahkan membahayakan anak.
Selain itu, anak tidak akan kehilangan suasana rumahnya sendiri. Sehingga merasa nyaman dan tenang dengan aktivitas apapun yang disukainya, tanpa 'diatur' bak robot dengan kurikulum yang kelewat disiplin layaknya di daycare. Meski begitu, pola pengasuhan inhomecare jg banyak menimbulkan masalah. Seperti, minimnya rangsangan bagi anak.
Ya, kebanyakan PRT berpendidikan rendah. Anak hanya mendapatkan pengasuhan, bukan pendidikan. Apalagi PRT juga merangkap semua pekerjaan. Belum lagi banyaknya PRT nakal yang merugikan majikan dan bahkan membahayakan anak.
Alasan itulah yang membuat ibu-ibu mencari alternatif menitipkan anak di daycare. Pendukung daycare beralasan, anak akan mendapatkan pengasuhan dan pendidikan sekaligus. Anak bisa belajar sosialisasi dan komunikasi lebih intensif. Anak juga banyak dirangsang. Daycare memiliki kurikulum yang jelas, dengan pengasuh berkualifikasi khusus dan bahkan di tingkat profesional, wajib memiliki sertifikat tertentu.
Keberadaan daycare pada akhirnya membuat perempuan karier lebih lega, tak lagi disesaki perasaan bersalah karena meninggalkan bayinya. Bagaimana tidak, pergi pagi tak harus direpotkan urusan anak, pulang malam sudah terima anak dalam kondisi beres. Kondisi demikian tanpa disadari akan semakin mengabaikan peran dan tanggung jawab utama ibu sebagai ummu warobbatul bait dan pendidik anak. Dan daycare telah mengambil alih peran tersebut.
Bagaimanapun daycare yang menjamur saat ini, didirikan dengan semangat bisnis yakni membisniskan dilema ibu bekerja tadi. Sebagus apapun konsep daycare dan seideal apapun kurikulumnya, tetap, peran ibu tak bisa tergantikan.
Ikatan emosional anak dengan pengasuhnya di daycare, tempat anak lebih banyak menghabiskan waktunya setiap hari, tidak akan bisa menggantikan ikatan emosional anak dan ibunya, tempat di mana 9 bulan ia berteduh di rahimnya. Guyuran kasih sayang dan pelukan mesra sang pengasuh di daycare, tak akan tergantikan dibanding cinta kasih dan peluk cium ibu kandungnya. Itu hak anak yang harus dipenuhi oleh ibu.
Ikatan emosional anak dengan pengasuhnya di daycare, tempat anak lebih banyak menghabiskan waktunya setiap hari, tidak akan bisa menggantikan ikatan emosional anak dan ibunya, tempat di mana 9 bulan ia berteduh di rahimnya. Guyuran kasih sayang dan pelukan mesra sang pengasuh di daycare, tak akan tergantikan dibanding cinta kasih dan peluk cium ibu kandungnya. Itu hak anak yang harus dipenuhi oleh ibu.
Terlepas dari pro-kontra daycare vs inhomecare, yg terpenting adalah mothercare alias kepedulian ibu. Menimang, menyusui, mencermati tumbuh kembang anak sejak buaian hingga bisa mandiri adalah pengalaman yang luar biasa yang tiada bandingannya dengan materi apapun. Juga tidak bisa diulang karena hanya terjadi sekali sepanjang usianya. Jangan sampai ibu menyesal tak sempat mendampinginya.
Mari lebih bijak lagi menjadi seorang ibu!

No comments:
Post a Comment