Halo ibu sukses. Apa kabar hari ini? Semoga hari ini adalah hari yang indah buat kita semua. Amin.
Menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah pilihan sulit bagi wanita yang sudah menikah di sistem sekarang ini. Apalagi jika si wanita tersebut adalah lulusan sebuah perguruan tinggi yg ternama dan mempunyai gelar pendidikan. Termasuk saya.
Banyak orang di sekitar yg mulai membicarakan hal tersebut. Contohnya:"sekolah mahal-mahal, tinggi-tinggi, eh ujung-ujungnya cuma ngurusin anak, terus apa gunanya kuliah?" ini adalah salah satu perkataan orang-orang yang kurang setuju dengan sosok ibu rumah tangga yang beijazah perguruan tinggi. hahaha.
Bahkan ibu saya sendiri adalah salah satu orang yang kontra dengan hal tersebut karena memang beliau sendiri adalah wanita yg bekerja. Ibu saya adalah seorang pedagang, beliau keja dari jam 6 pagi pulang jam 6 malam. jadi jarang sekali dia mengurusi hal kerumahtanggaan. Beliau tidak setuju jika saya hanya menjadi ibu rumah tangga, sampai sekarang pun ketika saya mengunjunginya, pasti pembicaraannya selalu menyuruh saya untuk bekerja mencari uang yg banyak agar jadi orang kaya, ketika sudah kaya maka kebahagiaan hidup kita dapatkan itulah pendapat ibu. Jadi memang ketiga anak ibu saya diasuh oleh saudara ibu. Beliau memilih untuk meninggalkan kami untuk bekerja daripada mengasuh kami.
Disini saya ingin berbagi banyak hal betapa menyenangkannya menjadi seorang ibu rumah tangga. Walaupun memang terkadang ada rasa jenuh dan minder ketika berkumpul dengan teman-teman seangkatan yang sudah menjadi wanita karier.
Terkadang juga terjadi pertentangan batin antara menjadi wanita karir dengan motivasi ingin eksis dan menambah penghasilan ataukah tetap menjadi ibu rumah tangga yg sehari-hari bergumul dengan aktivitas kerumahtanggaan tanpa penghasilan dan dicap pengangguran berijazah oleh orang-orang sekitar. Situasi ini memang akan tetap terjadi di sistem sekuler-kapitalistik seperti saat ini karena memang banyak sekali kebijakan yang dibuat tidak pro ibu dan malah banyak yang membebani ibu dengan tanggung jawab ekonomi di pundaknya.
Ya, dewasa ini kaum perempuan didorong berpartisipasi dalam pembangunan. Mereka dihipnotis dengan propaganda manis berupa kemandirian dan pemberdayaan untuk berkontribusi dalam perekonomian. Sejak di bangku sekolah perempuan sudah didoktrin untuk bekerja. Ketika sudah bekerja kemudian menikah dan memiliki anak di sanalah problem baru muncul? Siapa yg mengasuh anak? Sedangkan para ibu muda ini sedang di puncak kariernya dengan gaji yg menggiurkan.
Dilema menjadi wanita karier ataukah ibu rumah tangga seharusnya tidak perlu ada jika dunia kerja itu sendiri didesain sedemikian rupa sehingga sangat ramah dengan kaum ibu. Artinya dunia kerja yg juga memperhitungkan hak dan kewajiban ibu serta hak dan kewajiban anak. Sehingga perlu ditegakkan sistem yg menjamin tugas ibu tidak terabaikan sementara ia juga tetap bisa bekerja.
Di dalam Islam, kaum perempuan diperbolehkan untuk bekerja selama mendapat izin suami dan bekerja di sektor yg tidak membahayakan martabatnya, artinya sistem Islam mengatur dunia kerja kaum perempuan agar tidak mengabaikan tugas utamanya sebagai ibu.
Sekali lagi anak adalah amanah Allah SWT dan kita sebagai orang tua nantinya akan dimintai pertanggungjawaban olehNYA. Menjadi ibu adalah tugas mulia yg sangat besar pahalanya. Seumpama pahala itu dikonversikan dalam bentuk emas permata, apakah mungkin ibu-ibu akan pilih menjadi wanita karier dengan meninggalkan anak-anaknya? Lagi-lagi pahala adalah sesuatu yg abstrak di mata ibu-ibu sekarang yg sudah mulai teracuni virus sekuler kapitalis. Wallahu 'alam.

No comments:
Post a Comment