Sebagai manusia tidak lepas dengan yang namanya aktivitas atau perbuatan. Manusia dalam melakukan perbuatan tidak lain untuk memenuhi naluri dan kebutuhan jasmaninya. Namun, pada waktu yang sama, dia juga berusaha mencapai nilai-nilai tertentu dari suatu aktivitas yang ingin diraihnya.
Setiap perbuatan pasti mengandung sebuah nilai tertentu yang ingin dicapai oleh seseorang tatkala ia melakukannya. Entah itu mengandung nilai materi seperti aktivitas-aktivitas di bidang perdagangan, pertanian, industri, dan sejenisnya. Maka maksud dilakukannya perbuatan-perbuatan itu adalah untuk mendapatkan hasil berupa materi, yaitu memperoleh keuntungan.
Ataukah berupa nilai kemanusiaan, seperti menolong orang yang tenggelam, ataupun orang yang berada dalam kesulitan. Maka, dalam hal ini, yang menjadi tujuan perbuatan tersebut adalah menyelamatkan manusia tanpa melihat warna kulit, ras,maupun agamanya, atau pertimbangan-pertimbangan lain selain kemanusiaan.
Dan juga adakalanya nilai suatu perbuatan itu berupa nilai akhlaqiyah, seperti jujur, amanah, ataupun kasih sayang. Maka, semua perbuatan itu dimaksudkan untuk memperoleh nilai akhlaqiyah tanpa memperhatikan aspek keuntungan maupun kemanusiaan. Sebab, kadangkala sifat khuluq ini ditujukan kepada selain manusia, seperti rasa sayang terhadap hewan. Dan kadang perbuatan sifat khuluq ini mendatangkan kerugian. Contohnya pada zaman sekarang orang jujur biasanya malah ajur, para pejabat yang jujur/transparan terhadap rakyatnya biasanya malah dipidanakan lihat kasus ibu mantan menkes Siti Fadhila Supari yang membeberkan masalah Namru.
Adakalanya juga nilai suatu perbuatan tersebut bersifat ruhiyah seperti ibadah. Dalam hal ini kegiatan ibadah tidak dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan materi, tidak untuk kemanusiaan, dan bukan soal-soal khuluqiyah, melainkan semata-mata untuk beribadah. Karena itu, harus selalu dijaga pencapaian nilai ruhiyah ini tanpa memperhatikan lagi nilai-nilai lainnya. Contoh real saat ini adalah shalat dhuha, kebanyakan kaum muslimin melakukan shalat dhuha dengan tujuan agar rezekinya dilancarkan oleh Allah SWT, seharusnya tidak seperti itu, kita melakukan shalat dhuha murni lillahi ta'ala bukan untuk meminta kelancaran rezeki atau agar dagangannya laris meskipun hal itu juga sebagai imbasnya.
Suatu perbuatan itu jika tidak mengandung nilai apapun maka perbuatan itu akan sia-sia. Dan sungguh tidak pantas seseorang melakukan suatu perbuatan yang sia-sia tanpa ada tujuannya. Bahkan sebaliknya, ia harus memperhatikan tercapainya nilai-nilai perbuatan yang melatarbelakanginya.
Dalam melakukan perbuatan, seseorang seharusnya hanya menentukan satu tujuan dan satu nilai yang ingin diraihnya. Demikian juga bagi seorang Muslim ketika mengerjakan suatu aktivitas, seharusnya hanya berusaha merealisasikan satu nilai sebagai hasil dari aktivitasnya, sekalipun ada nilai lain yang diperoleh sebagai imbasnya.
Masalahnya kemudian adalah bagaimana jika dia melakukan perbuatan bertujuan untuk mencapai nilai tertentu, kemudian pada waktu yang sama dia diperintahkan untuk melakukan perbuatan yang lain? Mana di antara nilai-nilai tersebut yang seharusnya diprioritaskan?
Esensinya tidak ada nilai perbuatan yang dianggap lebih utama atau lebih rendah dibanding dengan nilai perbuatan yang lain. Seandainya ada yang lebih utama atau lebih rendah, juga bukan semata karena nilai itu sendiri, melainkan karena ketentuan yg ditetapka oleh Allah SWT. Sebab, ketika keutamaan dan ketidakutamaan nilai tsb diserahkan kepada manusia, maka manusia akan menentukan berdasarkan kecenderungannya.
Misalnya, orang yang mempunyai kecenderungan spiritual kuat, dia akan menentukan bahwa nilai yg lebih utama untuk diraihnya adalah nilai ruhiyah. Dengan demikian, dia akan meninggalkan semua nilai yg lain, selain nilai ruhiyah tersebut. Dia akan mengutamakan nilai ibadah dan tidak mementingkan nilai materi. Akibatnya, terjadilah kemunduran kehidupan di bidang materi; disamping keterbelakangan kehidupan masyarakat, termasuk timbulnya kemalasan dan kebodohan di dalamnya.
Dengan demikian, suatu kesalahan apabila manusia dibiarkan menentukan nilai-nilai tersebut. Seharusnya nilai-nilai itu ditentukan oleh Zat yang menciptakan manusia, yaitu Allah SWT.
Maka, syara' telah menjelaskan pemecahan berbagai problematika kehidupan melalui perintah-perintah dan larangan Allah SWT dan telah mewajibkan kepada manusia agar menempuh kehidupan ini sesuai dengan perintah dan larangan tersebut. Dan tugas manusia adalah berupaya meraih nilai-nilai tersebut sesuai dengan perintah dan larangan Allah SWT, serta menilainya sesuai dengan nilai yang telah dijelaskan oleh syara'.

No comments:
Post a Comment