Pasti semua orangtua pernah menjustifikasi anaknya sebagai 'anak yang nakal' dikarenakan polah tingkah anak yang berlebihan. Saya sendiri pun pernah melakukannya, karena saking jengkelnya sama Rosyid anak sulung saya yang selalu membuat rumah acak-acakan, tanpa basa basi, saya mencap dia 'anak nakal'. Hal ini seharusnya tidak boleh dilakukan oleh orang tua, karena jika melabeli anak dengan 'anak nakal' secara terus menerus maka anak akan merekamnya kemudian dia pun akan berkelakuan seperti yang dituduhkan kepadanya.
Pertama, mestinya setiap orang tua dapat lebih cermat membedakan antara 'nakal' dengan 'pintar'. Banyak ibu yang keliru membedakannya. Jadi bagaimana mengukur dan membedakan 'nakal' dengan 'pintar'? Prinsipnya yakni meramu dan mengarahkan potensi anak bukan membunuh potensi tersebut. Untuk mengetahuinya memang perlu kecermatan ibu melihat potensi anak dibalik polah tingkah anak.
Kadang hanya tampak sebagai kenakalan, seperti bertengkar, membantah, atau mencabuti tanaman hias di taman, tapi parahnya tingkah laku seperti ini disikapi oleh ibu dengan kemarahan saja. Hati-hati bu...Kendali diri adalah modal menghadapi buah hati kita. Jangan sampai terekam oleh anak kita bahwa ibunya membencinya gara-gara kemarahan tersebut. Potensi terbaiknya hanya akan berkembang dalam suasana penuh kasih sayang yang dirasakannya.
Diperlukan kepekaan seorang ibu dalam melihat lebih jauh kenyataan tingkah anak. Baik bahayanya apabila ditolerir, maupun potensi anak yang sedang ditunjukkannya. Ibu bijak akan memandang jauh ke depan dampak dari pelarangan, pembolehan ataupun kemarahannya kepada anak. Bukan melampiaskan keinginan marah. Tak sedikit ibu-ibu yang marah untuk sesuatu yang tidak jelas.
Jalinlah komunikasi yang baik dengan buah hati kita dalam menjelaskan keputusan yang disepakati. Hargailah anak kita sebagai 'manusia',maka hal tersebut akan menumbuhkan rasa percaya dirinya.
Pupuklah kemampuan berkomunikasi dan memberinya kesempatan mengembangkan logika. Hal ini dapat menjauhkan dan menguranginya dari kenakalan. Menyampaikan dan mendiskusikan keinginan-keinginannya, rencana-rencananya, sehingga ia akan terbiasa mempertimbangkan orang lain dalam keputusannya. Anak adalah amanah dari Allah SWT, mari Bu jaga dan didik anak-anak kita sesuai dengan ajaran Allah SWT.

No comments:
Post a Comment